DI ANTARA RATUSAN MUNGKIN RIBUAN NOVEL LAIN DI TOKO BUKU GUNUNG AGUNG

September 24, 2011


Sahabat.., di jaringan Toko Buku Gunung Agung, berjajar bersama ratusan mungkin ribuan novel lain, sebuah novel fiksi sains “Kembalinya Dua Bangsa Biadab Yajood Dan Majood” telah turut eksis. Novel yang merupakan seri “DrYN & Svelliuz Omar Svenn.” Apalah keberartian novel ini di antara ratusan mungkin ribuan novel lain itu?

Novel ini berarti Sahabat! Novel ini ditulis oleh seorang Doktor yang telah mengarungi berbagai sains. Novel untuk semua umur (terutama remaja) ini adalah perdana dari rangkaian kisah luar biasa di akhir zaman yang patut disimak. Novel ini adalah penyajian sebuah kemungkinan berbagai gejolak antar ideologi di akhir zaman yang harus dipertimbangkan, bahkan mungkin kelak akan menjadi kenyataan. Seri DrYN & Svelliuz Omar Svenn adalah sensasi baru di dalam dunia novel fiksi sains.

Terima kasih kepada jaringan Toko Buku Gunung Agung: Arion, Atrium, Bandung Indah Plaza, Borobudur Bekasi, Cyber Park Bekasi, Blok M Plaza, BSD Plaza, CBD Ciledug, Cirebon Mall, City Mall Tangerang, Jembatan Merah Bogor, Kwitang 38-6, Margo City Depok, Pondok Gede Plaza, Ramayana Bali, Gunung Agung Semarang, Surabaya Plaza, dan Tamini Square. Terima kasih pula kepada Toko Buku Batubara Ciputat dan Toko Buku Atina Salima Ciputat. Toko-toko buku lain segera menyusul.

Sahabat, pena telah terangkat, garis tulisan telah mengalun, dan harapan telah mengangkasa. Dengan rendah hati Sobatku, Andalah yang akan mewujudkan harapan itu!

Segera Terbit seri ke-2 “DrYN & Svelliuz Omar Svenn!!”

Novel Fiksi Sains Pertamaku

Agustus 15, 2011

Sobat semua. Daya hidup, imajinasi, idealisme, hobi, cita-cita, berdagang buku, bertahan hidup, dan sebagainya, telah berbaur, maka terbitlah novel fiksi sains ini. Dari ingatan masa lalu ketika membaca novel-novel Isaac Asimov, Trio Detektif, Enid Blyton, S.H. Mintardja; hingga kini ketika membaca novel-novel Michael Crichton dan kitab-kitab Ibn Katsir; terangkatlah pena, tersusunlah rangkaian kalimat, maka terbitlah novel fiksi sains ini.

Seri DrYN & Svelliuz Omar Svenn mengangkat tema peristiwa menjelang akhir zaman yang dituturkan oleh kitab-kitab sahih dipadukan imajinasi tentang masa depan dan saintek. Akan ada sembilan volume dalam rangkaian novel fiksi sains ini untuk segmen usia semua umur.

Seri novel fiksi sains DrYN & Svelliuz Omar Svenn:
1. Kembalinya Dua Bangsa Biadab Yajood dan Majood
2. Golongan Yang Selamat di Tengah Huru Hara
3. Tampilnya Imam al-Mahdi
4. Armageddon: Kebiadaban Dajjal
5. Armageddon: Turunnya Isa al-Masih
6. Armageddon: Takluknya Bangsa-bangsa Besar
7. Pertempuran Terakhir
8. Masa Keemasan di Akhir Zaman
9. Menjelang Kiamat Datang

Gambar di atas adalah gambar cover awal dan cover akhir novel fiksi sains pertamaku, yaitu seri pertama DrYN & Svelliuz Omar Svenn. DrYN adalah inisial namaku Doktor Yadi Nurhayadi, dan Svelliuz Omar Svenn adalah tokoh utama dalam seri novel ini. Novel pertama ini diterbitkan oleh PT. Bangkit Daya Insana dengan ISBN 978-979-596-077-5, cetakan pertama bulan Juni 2011. Silakan nikmati atmosfernya mulai dari seri pertama. Semoga Allah SWT limpahi berkah dan manfaat bagi semua. Lebih lanjut, sobat semua dapat mengomentari tulisan ini, atau kirim e-mail ke yadi.nurhayadi@gmail.com.

MERENUNGI KIPRAH WANITA

Mei 18, 2011

            Setelah cukup lama menyelami sepak terjang wanita dewasa ini, saya menilai ada sisi yang membanggakan, tetapi ada pula sisi yang memprihatinkan. Sisi yang membanggakannya adalah bahwa kini wanita tidak bisa lagi dianggap sebagai makhluk Tuhan yang lemah. Wanita kini sejajar dengan pria, bahkan menjadi lebih superior dari pria. Di banyak rumah tangga, pada kenyataannya, kini wanita sebagai isteri, lebih besar penghasilannya dibanding penghasilan pria suaminya. Begitulah, walau dicegah sekeras mungkin, diterima atau tidak diterima, takdir Tuhan menghendaki sudah ada banyak rumah tangga di mana wanita telah lebih superior dibanding pria. Pada akhirnya banyak suami yang harus berdamai dengan kenyataan itu, demi rumah tangga yang langgeng.

            Secara mendasar, dalam batas tertentu, tidaklah bermasalah besar jika superioritas wanita ini ditabrakkan dengan nilai-nilai Islam, karena memang Islam mengizinkannya dengan berbagai syarat. Akan tetapi, bagaimana jika wanita yang berkarakter superior ini berhadapan dengan pria saleh yang juga berkarakter superior yang membawa haknya sebagai suami berlandaskan nilai-nilai Islam untuk membatasi superioritas wanita itu? Akankah sesuai jika pria saleh berkarakter superior disandingkan dengan wanita yang juga superior, sebagai suami istri? Dari sinilah sisi memprihatinkan akan saya coba tuturkan.

            Paling awal perlu saya ungkapkan bahwa masih banyak pria yang dididik di dalam nilai-nilai Islam yang mengangkat bahwa pria adalah pemimpin dalam rumah tangga dengan hak-hak (relarif di mata manusia) lebih superior dibanding wanita. Bagaimanapun nilai-nilai ini sahih, dan karenanya pria yang menjadikan nilai-nilai ini sebagai landasan, maka ia beralasan kuat. Ada banyak dalil sahih yang menegaskan bahwa secara sisi pandang manusia, pria nampak lebih superior dibanding wanita. Saya akan utarakan beberapa.

            Dimulai dari firman Allah SWT di An Nisa: 34, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Nusyuz yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya, tidak taat kepada suami padahal suaminya benar, meninggalkan tanggung jawab sebagai isteri tanpa izin suami, dsb.

            Berikutnya bahwa laki-laki Muslim dengan berbagai syaratnya boleh berpoligami hingga mempunyai empat orang isteri. Sementara wanita Muslim sama sekali tidak boleh berpoliandri. Diizinkannya laki-laki Muslim berpoligami hingga mempunyai empat isteri dengan syarat ia adil, difirmankan Allah SWT di An Nisa: 3, “…, maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, …”

            Beberapa hadis sahih juga menegaskan superioritas suami terhadap isterinya. Seperti bahwa isteri layak bersujud kepada suaminya dan bahwa isteri (yang tidak berhalangan) dikutuk oleh malaikat jika menolak ajakan suami berhubungan intim. Seperti sabda Rasul saw di dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad, “… kalau dibenarkan manusia sujud kepada manusia, aku akan memerintahkan wanita sujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami terhadap isterinya.” Serta di hadis yang diriwayatkan Bukhari, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Kalau seseorang memanggil isterinya ke tempat tidur dan ia tidak mau datang, maka malaikat mengutuki wanita istrinya itu sampai pagi.”

            Dalil-dalil sahih di atas adalah ketentuan Tuhan yang jika wanita ingin memprotesnya, silakan protes saja langsung kepada Tuhan. Dan ketentuan Tuhan Sang Pencipta jelas tidak perlu patuh kepada ego manusia ciptaan-Nya. Manusia wajib meyakini bahwa lingkup manfaat ketentuan Tuhan tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Dalam arti, jika manusia menaatinya dengan ikhlas semata-mata sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan, tentu Tuhan akan menepati janji dengan menganugerahkan syurga dan berbagai imbalan yang membahagiakan yang berkali lipat lebih baik.

            Sekarang mari kita coba menganalisis dalil-dalil di atas jika dikaitkan dengan kenyataan. Firman Allah SWT di An Nisa: 34 di atas secara mendasar adalah gambaran ritme rumah tangga keluarga Muslim. Pikirkanlah, bagaimana jika justru wanita yang memberi nafkah kepada suaminya. Apakah berarti pernyataan bahwa Allah telah melebihkan laki-laki atas wanita menjadi tidak berlaku lagi. Begitu pula, bagaimana jika justru suami yang harus memelihara diri ketika isteri tidak ada di rumah, lalu disebut suami nusyuz sehingga justru isterilah yang melakukan upaya supaya suami kembali taat kepada istri. Selanjutnya maka perlu ada Dharma Pria bukan Dharma Wanita lagi. Dan wanita-wanita bekerja di berbagai bidang, termasuk bermain sepak bola, binaragawati, bertinju. Duh.., bukankah ritme rumah tangga keluarga Muslim di An Nisa: 34 itu menjadi berantakan? Maka saya ingin bertanya, wahai wanita apakah memang hati kecil anda sudah tidak menerima firman Allah SWT di An Nisa: 34 itu?

            Apakah makna kesejajaran identik dengan tidak menerima ketentuan Tuhan? Apakah memang para emansipatoris sudah tidak lagi menerima adanya perbedaan jasmani di antara pria dan wanita? Jika demikian, sikap itu sudah menyalahi garis Tuhan. Karena memang jelas pada firman Allah SWT  di Ali ‘Imran: 36 yang mengisahkan kisah kelahiran Maryam diceritakan, “Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.”

            Jadi secara mendasar Tuhan memang telah menciptakan wanita berbeda dengan lali-laki, baik secara fisik, mental, hak dan kewajiban, serta pelaksanaan syariah. Akan tetapi, mengimbangi perbedaan-perbedaan itu, jika wanita dan laki-laki dengan ikhlas tetap konsisten menaati ketentuan Tuhan sesuai fitrahnya, maka masing-masing pihak akan sama-sama berhak mendapat imbalan syurga. Secara pasti, Tuhan memang menjanjikan itu, segala sesuatu akan ada imbalannya yang adil. Dengan demikian, para emansipatoris yang tidak paham aturan Tuhan, sebaiknya mulailah belajar memahami.

            Aturan Tuhan mengikuti fitrah dalam membagi tugas antara kaum wanita dan laki-laki. Fitrah secara mendasar menjadikan wanita sebagai wanita, dan laki-laki sebagai laki-laki. Fitrah membiarkan mereka dengan ciri khas masing-masing agar siap menjalankan tugas tertentu, bukan untuk kepentingan pribadi dan bukan pula untuk kepentingan jenis kelamin tertentu, akan tetapi untuk kepentingan kehidupan manusia yang berjalan teratur, memenuhi ciri khas masing-masing dan mewujudkan tujuan mengabdi kepada Tuhan. Fitrah ini mengarahkan realisasi pengabdian kepada Tuhan melalui keragaman antara kedua jenis makhluk wanita dan laki-laki, keragaman ciri khas, keragaman tugas. Melalui keragaman ciri khas dan tugas muncul keragaman kewajiban, keragaman bagian, dan keragaman posisi guna mewujudkan tujuan lembaga besar penuh hikmah yang bernama kehidupan.

            Adalah salah jika para emansipatoris memahami wanita dan laki-laki sebagai suatu pertarungan. Bukan karena takut, tetapi paham itu memang sesat dan salah. Was was, waspada, bahkan menyerang sebagai wujud menyikapi bagaimana wanita dan bagaimana laki-laki hanya akan membawa kepada neraka, yang telah diperingatkan Rasul saw bahwa wanita lebih banyak tinggal di dalamnya. Wanita dan laki-laki harus bersama-sama memahami itu. Permasalahan sebenarnya bukanlah masalah pertarungan. Akan tetapi masalah keragaman, pembagian, keterpaduan, dan setelah itu, keadilan yang sempurna dalam aturan Tuhan. Maka jalan yang terbaik bagi laki-laki saleh yang ternyata harus berhadapan dengan istri muslimah yang ingin superior, keduanya harus kembali kepada aturan Tuhan! Agar sisi memprihatinkan yang ditanyakan di awal tulisan ini tidak mengemuka.

            Bagaimanapun kepada wanita muslimah di Indonesia, walaupun sudah di bulan Mei, saya ucapkan selamat Hari Kartini! Mohon pahamilah laki-laki muslim saleh yang ingin membina rumah tangga demi pengabdian tulus ikhlas kepada Tuhan. Pahami dengan ikhlas dan tetap berusaha menjalankan aturan Tuhan dengan ikhlas!

Menjadi Doktor

Oktober 29, 2010

Akhirnya, di usiaku yang telah merambat 36 tahun, tanggal 27 Oktober 2010 pukul 20.00 aku berhasil mempertahankan Disertasiku pada Sidang Terbuka Promosi Doktor di Postgraduate School – State Islamic University (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, dan secara resmi berhasil meraih gelar akademik “Doktor” dalam konsentrasi Islamic Economic. Di hadapan para penguji yang diketuai Prof. Dr. Azyumardi Azra dengan tim pengujinya Prof. Dr. Sri-Edi Swasono, Prof. Dr. Abdul Hamid, Prof. Dr. Abuddin Nata, dan Prof. Dr. Ahmad Rodoni, Alhamdulillah aku dapat meyakinkan dan mempertahankan argumentasi disertasiku. Studi S3 ini kuselesaikan dalam rentang 3 tahun 2 bulan.

Menjadi Doktor adalah salah satu cita-citaku, sebagai wujud pengabdianku kepada Sang Pencipta dalam memahami setitik kecil ilmu-Nya yang mahaluas. Wahai Allah Sang Pencipta, segala puji bagi-Mu, akhirnya aku menjadi Doktor. Ternyata, Engkau masih berkenan menganugerahiku sebuah pencapaian tinggi, dalam perjuangan yang penuh makna, melelahkan, terasa hingga ke sumsum tulang, tetapi sungguh dipenuhi syukur atas pemahaman yang sangat memuaskan dahaga keilmuanku.

Wahai Allah, tadinya aku sungguh sudah kehilangan arah. Aku tak tahu bagaimana mengejar pencapaian ini. Masih sangat teringat dalam memoriku, betapa aku diganjal orang-orang zalim yang semena-mena menyingkirkanku dengan kekuatan yang dimilikinya. Ampun Ya Allah, aku yang Mahasiswa Terbaik ITB di tahun 1996 dari Jurusan Geofisika dan Meteorologi, aku yang berhasil meraih beasiswa URGE dari World Bank dalam meraih Master Sains di ITB, diganjal secara tidak fair dan semena-mena ketika melamar secara fair di tahun 1998 untuk menjadi Dosen di almamaterku oleh Sang Kajur kala itu. Ya Allah, aku terbuang kala itu. Seorang intelektual yang dihinakan. Masih sangat terasa kelelahanku kala itu. Rasa sakitnya selalu ingin kulupakan, tetapi bagaimanapun masih saja terasa. Akhirnya, beserta rasa-rasa sakit lain karena banyak terzalimi, semua kupasrahkan kembali pada-Mu.

Wahai Allah, setitik kecil ilmu-Mu telah kupahami. Tentu saja, aku masih juga dahaga untuk memahami ilmu-Mu yang lain-lainnya. Tetapi, setitik ilmu-Mu yang telah kupahami ini sangat ingin kuajarkan kepada hamba-hamba taat-Mu yang lain, maka beri aku jalan untuk mengajarkan ilmu, memahamkan ilmu, dan menerapkan kebaikan ilmu-Mu. Beri pemikiran dan jalannya yang lapang, yang memahamkan, yang menenangkan, yang membahagiakan, yang menyejahterakan, serta yang membawa kepada pengabdian tulus dunia akhirat kepada-Mu.

Wahai Allah, Engkau Yang Mahakaya yang tak pernah berkurang kekayaannya. Engkau Yang Mahaberkuasa. Engkau Yang Raja. Engkau Yang Sepatutnya Sombong. Hanya Engkau. Maka aku bersujud kepada-Mu memohon agar Engkau menundukkan serendah-rendahnya orang-orang yang sombong, yang zalim, yang merasa berkuasa, yang merasa kaya, dan yang merasa memimpin, di hadapan pengabdian tulusku pada-Mu. Wahai Allah, jangan biarkan kezaliman makhluk-Mu menguasai dunia yang Kau ciptakan, maka hamba berlindung pada-Mu.

Proyeksi Masa Depan

Juli 7, 2010

Dari berita di surat kabar terungkap bahwa buku-buku dan pernak-pernik yang berkaitan dengan ramal meramal ternyata laku keras. Mulai dari buku-buku astrologi, shio, fengshui, hingga buku primbon sampai kartu-kartu tarot. Demikian pula penjualan jasa ramal-meramal, astrologi, fengshui, dan sebagainya juga laku keras, terlebih pada akhir atau menjelang awal tahun. Ramal meramal di sini tidak termasuk prediksi yang dilandasi oleh kalkulasi ilmiah berdasarkan sains yang eksak. Tulisan berikut ini tidak bermaksud menghakimi salah atau benar, tetapi akan berusaha membuka fenomena ini secara lebih luas dengan nuansa keterbukaan.

Orang yang percaya kepada ramal meramal tentunya sudah meyakini adanya alam dan makhluk gaib. Apa memang demikian? Jelas demikian, karena prosesi ramal meramal identik dengan penerawangan, di mana si peramal seakan mendapat firasat atau bisikan dari alam gaib. Kecuali jika si peramal itu adalah tukang tipu atau prosesi ramalannya sekedar permainan untung-untungan kartu. Hanya saja, meskipun si peramal itu memang mendapat firasat atau bisikan atau apa pun dari alam gaib, firasat, bisikan, atau apapaun dari alam gaib itu juga belum tentu benar, bahkan akan banyak salahnya.

Alam gaib dan makhluk gaib itu memang ada, tak perlu lagi didebat, seperti kita percaya adanya Tuhan. Dari teks-teks Kitab Suci atau Hadis Sahih ada dijelaskan bahwa dengan ilmu-Nya Tuhan memang Maha Mengetahui, termasuk atas peristiwa yang akan terjadi, masa depan, bahkan akhir zaman. Dan Tuhan firmankan bahwa itu adalah urusan-Nya, manusia tidak usah berusaha untuk tahu. Kalaupun diizinkan-Nya manusia tahu, pengetahuan itu hanyalah sedikit saja. Celakanya, memang ada syetan yang mencuri berita dari malaikat lalu lari terbirit-birit dikejar semburan api. Ada pula dari golongan jin yang sering membuat tipu daya membisikkan hal-hal baik kepada manusia. Bisikan-bisikan dari syetan dan jin itulah yang diterima oleh para tukang ramal, yang lalu dibungkus lagi dengan banyak kedustaan. Karena usaha bertanya kepada tukang ramal itu hakikatnya adalah usaha mendahului ketentuan Tuhan, maka ia dinilai sebagai perbuatan menyekutukan Tuhan. Dosanya tidak akan diampuni jika tidak bertobat. Bagi orang Muslim, siapa yang mendatangi tukang ramal lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka Tuhan tidak menerima salatnya selama 40 malam.

Keingintahuan akan masa depan, apakah sukses atau tidak, apakah sehat atau tidak, apakah berjodoh atau tidak, apakah selamat atau tidak, dan sebagainya, jika dipikir sebenarnya hanya berkutat di dalam ruang pikir yang sempit. Mengapa demikian? Karena keingintahuan itu terbatas untuk segala hal selama di dunia. Lalu apakah manusia tidak percaya bahwa setelah kematianlah justru adalah kepastian apakah ia bahagia masuk syurga atau terus tersiksa karena masuk neraka? Padahal sudah jelas, tidak perlu diramal lagi, siapa manusia yang mengabdi kepada Tuhan, Sang Pemilik Arsy, dia akan bahagia kelak, karena masuk syurga. Ha.., ha.., ha, banyak orang menertawakan karena menyepelekan. Apakah sesederhana itu? Jawabannya: ya, memang sederhana, mengabdi kepada Tuhan.

Kembali kepada adanya hal-hal gaib, yang manusia hanya diberi sedikit pengetahuan tentang itu oleh Tuhan. Termasuk pengetahuan akan hal-hal gaib itu adalah adanya pula teks-teks di dalam Kitab Suci dan Hadis Sahih yang memberitakan peristiwa di masa depan, akhir zaman, jin, syetan, malaikat, syurga, neraka, termasuk tentang Tuhan Sang Pencipta sendiri. Yang akan dibahas selanjutnya adalah adanya berita-berita tentang menjelang akhir zaman di dalam Kitab Suci dan Hadis Sahih itu.

Sebelumnya mungkin akan muncul pertanyaan, apakah teks-teks mengenai peristiwa menjelang akhir zaman di dalam Kitab Suci dan Hadis Sahih itu adalah juga ramalan? Bagi orang beriman, jawabannya tidak. Berita dari Kitab Suci atau Hadis Sahih itu diyakini oleh orang beriman sebagai keniscayaan, bukan ramalan. Tentu saja, karena berita itu dinyatakan oleh Sang Pencipta sendiri atau melalui Nabi utusan-Nya. Akan tetapi, bagi orang yang tidak beriman atau orang lain yang tidak seiman, berita itu tentu juga hanya mencapai kadar ramalan. Yang penting di sini, ternyata semua kitab suci ada memberitakan peristiwa yang akan terjadi di masa depan dan atau menjelang akhir zaman. Inilah yang akan ditekankan.

Satu berita yang diyakini kebenarannya oleh orang-orang beriman dari kaum Muslim, Nasrani, dan Yahudi adalah akan adanya pertempuran besar terakhir menjelang akhir zaman antara kebaikan dan keburukan. Masalahnya, mana yang baik dan mana yang buruk akan berbeda sesuai sisi pandang masing-masing. Maka berbagai peristiwa global dunia baik yang telah menjadi sejarah maupun yang akan datang jelas akan diwarnai oleh berita menjelang akhir zaman itu. Ah, jangan terlalu terobsesi dan paranoid begitu dong. O tidak! Ini bukan karangan, obsesi, atau paranoid yang omong kosong tak berdasar. Dasarnya ada, maka mari kita perhatikan dan diskusikan dengan penuh keterbukaan, tanpa emosi, jadikan sebagai wawasan tambahan.

Pertempuran besar terakhir menjelang akhir zaman akan terjadi di Palestina. Kitab Yahudi dan Nasrani menyebutnya dengan “Armageddon” (Bible, in Revelation 16:16). Kata ini diyakini berasal dari bahasa Hebrew (bahasa kaum Yahudi) dari kata Hill of Megiddo, yaitu sebuah tempat di dataran Isdraelon, yang akan menjadi pusat pertempuran besar itu. Sementara dari Hadis Sahih kaum Muslim juga dikabarkan tentang pertempuran besar itu, di mana kaum Muslim akan dipimpin oleh seorang Imam keturunan Rasul Muhammad saw yang akan mendapat gelar al-Mahdi (Lihat kitab Ibn Katsir: al-Bidayah wa al-Nihayah).

Kaum Nasrani dan Muslim juga meyakini akan turunnya kembali Isa al-Masih putra Maryam. Kaum Nasrani meyakini bahwa al-Masih akan turun untuk menunjukkan kebenaran. Sedangkan kaum Muslim meyakini bahwa al-Masih akan turun untuk turut membantu al-Mahdi memimpin kaum Muslim memenangkan pertempuran serta menghadapi Dajjal dan bangsa Ya’jud wa Ma’jud.

Boleh jadi konflik Timur Tengah umumnya dan Palestina khususnya antara kaum Yahudi (yang dibantu Nasrani) dengan kaum Muslim, termotivasi oleh berita pertempuran menjelang akhir zaman ini. Apalagi di dalam kitab Yahudi memang ada dinyatakan bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan bagi kaum Yahudi. Dan ini memang jelas menjadi motivasi dasar gerakan Zionisme dan berdirinya negara Israel. Tulisan ini bukan bermaksud memperbesar aroma konflik tersebut, sehingga membakar hati kita masing-masing. Akan tetapi, marilah kita berpikir sebagai makhluk Tuhan yang diberi akal pikiran. Jika berita Tuhan tentang pertempuran besar menjelang akhir zaman itu benar, bagaimana sikap kita? Sebagai orang beriman, tentu kita meyakini kebenaran keyakinan kita masing-masing dan berusaha keras untuk memperjuangkannya. Tetapi pernahkah kita mempertanyakan atau bahkan sedikit memprotes, Ya Tuhan apakah memang Kau takdirkan ras manusia ciptaan-Mu ini untuk saling terus berperang? Tidak bisakah dengan kasih sayang-Mu Kau lunakkan hati-hati kami yang bersalah dan berdosa untuk mau menerima kebenaran yang Kau tunjukkan, agar kami semua tunduk ikhlas mengabdi kepada-Mu dan ikhlas menegakkan keadilan.

Diriku Yang Sebenarnya

Maret 5, 2010

 Aku menulis tulisan ini di saat kejenuhan melanda. Aku ingin bicara terus terang tentang diriku setelah sebenarnya memang cukup melelahkan terus mengejar pencapaian kebaikan serta mempertahankannya dengan menjaga image dan kehormatan, walaupun manusia memang dituntut Tuhan untuk mampu berbuat itu. Aku sadari itu.

Banyak sekali yang ingin kuutarakan. Hal ini membuatku khawatir untuk tidak bisa selalu mengingatnya untuk ditulis dalam kumpulan huruf ini. Aku ingin bicara, tapi aku juga ingin tetap menjaga kehormatanku. Kupikir memang harus, dan itu wajar.

Tahukah anda, manusia tentu punya idealisme di dalam hati kecilnya. Walaupun dalam kenyataan bisa terus tergerus. Aku merasa, aku cukup bangga masih bertahan untuk mempertahankan memiliki idealisme itu. Walaupun kekhawatiran-kekhawatiran sering melanda yang intinya jika kupertahankan idealisme ini, maka aku harus melawan kejamnya dunia dan isinya. Nyatanya aku memang sudah mengalami, harus berhadapan dengan kejamnya dunia dan isinya, terutama kejamnya manusia-manusia yang melalui tindakan mereka hidupku menjadi berliku-liku, tidak sesuai dengan harapan-harapan manis yang kuimpikan. Aku sering menuduh mereka zalim kepadaku. Tapi hakekat sebenarnya hanya Tuhan yang tahu. Tentu Tuhan akan menghukum mereka di akhirat (bahkan juga di dunia) jika menurut-Nya perbuatan mereka memang zalim kepadaku. Tapi aku juga tak boleh curang. Boleh jadi ada pula manusia yang merasa terzalimi olehku, walaupun aku sudah berusaha menetapi kebenaran. Untuk itu aku hanya bisa meminta maaf kepada mereka (walaupun tidak tersampaikan), tapi terutama aku mohon maaf dan ampun kepada Tuhan telah menzalimi makhluk-Nya.

Ketahuilah, usiaku kini tengah berjalan menuju usia 36 tahun. Pencapaianku dalam usia setua ini sudah cukup banyak, walaupun kunilai masih sangat belum mencukupi. Yang sangat kusyukuri, Tuhan telah memberiku banyak sekali kesempatan belajar yang cukup bervariasi, dan aku mampu memahaminya. Dalam hal ini, aku selalu berdoa, Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kalbu yang tidak khusyu. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari hawa nafsu yang tidak terpuasi. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari doa yang tidak dikabulkan.

Hingga saat ini dan seterusnya aku masih berjuang belajar dan berusaha untuk terus menambah ilmu. Demi Allah aku tidak mau sombong. Salah satu cita-citaku adalah menjadi ahli ilmu, di mana aku diberi kesempatan-Nya mengajak manusia untuk mengabdi kepada Tuhan Sang Pencipta. Ya Allah ampuni hamba, ampuni kami.

Di antara amanah yang kini tengah keras kucoba tunaikan adalah amanah pendidikan dan amanah berjuang untuk menunaikan ibadah haji. Ya Allah mudahkan hamba. Amanah pendidikan masih kukejar karena bagiku ini merupakan jalan menyejahterakan keluarga yang wajib kupertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Sementara amanah berjuang menunaikan ibadah haji juga tengah keras kulakukan dengan menabung haji sedikit demi sedikit, karena rukun Islam yang belum kutunaikan adalah ibadah haji. Tentu di luar dua amanah itu juga masih banyak amanah-amanah lain.

Saudara-saudara, ketahuilah, walaupun kutahu Tuhan tak pernah luput mengamatiku, dalam kesendirian aku seringkali ingin banyak saling berbicara tukar pikiran. Entah dengan laki-laki ataupun dengan perempuan. Pembicaraannya harus yang membangun, yang baik, dan tulus ikhlas. Aku ingin sekali tidak malu dan segan. Tapi aku juga berlindung kepada Tuhan, jika berbicara dengan perempuan, agar aku tidak berlebihan dan tetap tidak melibatkan hawa nafsu. Rasanya sangat mendamaikan jika ada teman bicara yang tulus ikhlas dan aku tidak segan untuk bicara apa adanya yang penuh dengan kebaikan.

Aku katakan, aku punya banyak keburukan dan tentu sering berbuat salah. Tapi aku berlindung kepada Tuhan dari diperlihatkannya aibku, karena demi Allah aku selalu ingin bertaubat. Dan jika berhadapan dengan-Nya tentu aku tidak bisa berdusta. Aku hanya bisa jujur dan mengakui, Ya Allah aku mengakui dosa-dosaku, aku bertaubat, dan aku mohon Engkau lindungi aku dari berbuat dosa kembali. Sebagai manusia, dalam hal berbuat buruk dan dosa hanya sikap itu yang bisa aku tempuh. Bagiku tidak ada yang lain. Kata Rasulullah, semua manusia bersalah. Dan sebaik-baik manusia yang bersalah adalah yang bertaubat.

Dalam hal berhadapan dengan Anda yang tidak seiman, aku berusaha bersikap berlandaskan nilai-nilai universal. Aku menghargai dan hormat kepada Anda dengan harapan Anda pun bersikap sama. Kita tidak boleh saling menzalimi dan tidak boleh saling menindas hak masing-masing. Tapi aku akan tetap mengajak Anda dengan lemah lembut tanpa paksaan untuk menjadi Muslim demi keselamatan akhirat Anda, karena itu yang juga dilakukan Rasul Muhammad. Semoga Allah memberi hidayah-Nya.

Ternyata tulisan ini memang hanya sebagian dari rencana di awal yang seakan membludak di kepala untuk diutarakan. Saat kumenulis ini sudah sangat larut malam, saat rapat paripurna DPR RI sudah selesai dengan votingnya tentang kasus Century.

Orang-orang Zalim

Desember 2, 2009

Saya tinggal di sebuah rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan hijau. Sayangnya keasrian rumah sederhana itu ternoda oleh keberadaan saluran air / selokan di depan rumah. Sebenarnya saluran itu tidaklah bermasalah jika kondisinya normal sebagai saluran air saja. Akan tetapi, ternyata saluran itu juga menjadi tempat pembuangan sampah bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Di samping itu ada banyak pula orang-orang yang membuang sampah sembarangan di halaman orang lain. Kondisi ini sangat memprihatinkan.

Sebagai warga saya merasa turut prihatin pula. Di setiap pertemuan warga, tanpa bermaksud menggurui, saya selalu berusaha mengingatkan agar tidak membuang sampah sembarangan. Saya pun memberi contoh pengelolaan sampah yang relatif baik, yaitu untuk sampah organik saya membuat lubang sampah di pekarangan, tetapi untuk sampah non organik seperti plastik saya buang di tempat pembuangan sampah RW. Lubang sampah di pekarangan jika sudah penuh tinggal ditimbun, maka ia akan menjadi penyubur tanah. Lalu saya buat lubang sampah yang baru. Sementara sampah non organik, saya belum sanggup mengelolanya, maka saya buang ke tempat pembuangan sampah RW, biarlah Pemda yang menanganinya.

Apakah contoh yang saya berikan ditiru? Syukurnya ada yang menirunya, tetapi sedikit. Tetap ada saja sampah di selokan, atau ada saja orang yang membuang sampah di halaman rumah. Saya sering memikirkan, apa yang ada di dalam pikiran orang-orang yang membuang sampah seenaknya itu. Jelas, ia hanya memikirkan masalahnya selesai, padahal ia telah membuat masalah terhadap orang banyak yang lain. Ia zalim. Dan zalim adalah berdosa. Apakah ia tidak menyadarinya?

Lalu saya menarik sikap zalim ini tidak hanya pada masalah sampah. Karakter zalim ternyata masih cukup dominan mewarnai keseharian kita. Petugas kelurahan yang masih meminta uang administrasi pada pembuatan KTP, padahal tertempel spanduk pengumuman bahwa tidak ada pungutan apa pun pada pembuatan KTP, adalah zalim. Sopir angkot/metro mini/kopaja/bis kota yang berhenti sembarangan mengganggu lalu lintas adalah zalim. Pedagang kaki lima yang berdagang sembarangan menyempitkan jalan raya adalah zalim. Motor yang main salip dengan suara mesinnya yang memekakkan telinga adalah zalim. Permainan kotor dalam penerimaan pegawai adalah zalim. Berbagai pungutan liar adalah zalim. Koruptor, perampok, pencuri adalah zalim. Bahkan saling menyontek dalam ujian yang meyalahi aturan dalam ujian itu adalah juga zalim. Dan masih banyak zalim-zalim yang lain. Lantas bagaimana akibatnya bagi Indonesia jika karakter-karakter zalim ini masih cukup dominan mewarnai? Ya Tuhan…

Apakah yang ada di dalam pikiran orang-orang zalim itu? Apakah dosa karena zalim telah berubah menjadi halal dan berpahala? Apakah hidup hanya di dunia ini saja, sehingga segalanya dikejar demi dunia? Apakah tidak ada hari pembalasan? Apakah tidak takut dengan hari pembalasan?

Ha.., ha.., ha.., orang-orang zalim hanya tertawa.

Islamic Resurgence in the Age of Globalization: Myth, Memory, Emotion

September 16, 2009

ABSTRACT

            That Islamic Resurgence will be certainly happened is most of Moslem conviction. It brings two kind of news: bad news and good news. The bad news tells that in the beginning, Islamic Resurgence will be faced by conflict and war with other religions. The good news tells that in the age of Islamic Resurgence and Islamic Domination, God’s mercy will surround the world and all of human. It is because of totally Islamic values application in all of aspect of human life.

            We must be wary in giving attention of the bad news that in the beginning of Islamic Resurgence, there will be conflicts and wars. The conflicts and wars are not among Islam and other religions only, but in Islam internally too. These events have been informed by The Prophet Muhammad. The Moslem will split into several groups. There will be conflicts among these groups. Finally, only a group will be safe, the real Moslem group, al-jamā‘ah. This group will become a winner when facing conflicts and wars with other religions. Al-jamā‘ah brings Islam to its resurgence and domination in the world. At that time, Islam will be leading by a just and wise leader, al-Mahdi, and his companion, Jesus.

            In fact, we must acknowledge that general conditions nowadays imply the truth of Islamic Resurgence signs. The conditions show that Islam internally splits into several groups and externally faces with Jewish and Christian. These raise a lot of views about Islam, Islamic Resurgence, and the world in the future. For examples, say Huntington, Esposito, or Fukuyama views. Beside all of those views, information from Islamic literatures it self must be paid attention.

            If this information -about Islamic Resurgence- is true, we feel that we are on the steps of our destiny and we can’t avoid it. So, what must we do? The best reaction -I think-, beside we must have known the information of Islamic Resurgence and the end of the world signs from Islamic literatures, we need to know the information from other religions. Each religion must be transparently informs they belief about the end of the world signs. And then, we are just wary to make decision: take part in the process or no.

Gerakan Masif Kebenaran 2

Juli 7, 2009

Akhir-akhir ini wacana Ekonomi Kerakyatan (EK) versus Neo Liberalisme (NL)  tengah mengemuka. Pada kenyataannya untuk Indonesia saat ini yang sudah terperosok sedemikian jauh mengikuti globalisasi yang seiring dengan pasar bebas (salah satu perwujudan NL), EK memang sebuah mimpi. Padahal, kondisi Indonesia secara umum saat ini memang lebih membutuhkan EK daripada NL. Kualitas kesejahteraan, intelektual, dan kependudukan masyarakat Indonesia masih jauh di bawah. Indonesia lebih membutuhkan EK, yang merupakan gerakan bersama untuk terlebih dahulu membuat kesejahteraan, intelektual, dan kependudukan masyarakat Indonesia berkualitas tinggi. Jika kualitas tinggi itu telah tercapai, barulah Indonesia siap terjun ke dalam arus globalisasi dan pasar bebas, itu pun dengan catatan haruslah globalisasi dan pasar bebas yang berlandaskan syariah.

Satu contoh bahwa sistem ekonomi kerakyatan lebih tepat bagi Indonesia dibanding Neo Liberal adalah dalam sektor pendidikan. Ekonomi kerakyatan mengutamakan kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi Neo Liberal mengizinkan adanya pelaksanaan pendidikan demi mengejar profit semata. Celakanya justru lembaga pendidikan negeri di Indonesia telah mempraktekkan sistem Neo Liberal itu.

Lembaga pendidikan negeri tidak layak menerapkan diskriminasi pelayanan pendidikan yang dilandaskan kepada kemampuan finansial. Ini sangat bertentangan dengan tujuan dibentuknya NKRI. Bacalah kembali pembukaan UUD 1945, tujuan dibentuknya NKRI adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan perdamaian dunia. Tidak ada diskriminasi bagi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia!

Adanya kelas internasional di lenbaga pendidikan dasar dan menengah negeri –yang jelas menunjukkan diskriminasi pelayanan pendidikan dibanding kelas reguler– bertentangan dengan UUD. Demikian pula privatisasi lembaga pendidikan tinggi negeri yang dibangun oleh uang rakyat adalah juga bertentangan dengan UUD. Maka kelas internasional di sekolah dan PT negeri juga kelas ekstensi di PTN bertentangan dengan UUD. Kelas-kelas itu boleh saja ada di lembaga pendidikan swasta tapi tidak di negeri. Pelayanan pendidikan di lembaga pendidikan negeri haruslah menerapkan pemerataan pelayanan pendidikan, termasuk kualitas pendidikannya. Tidak boleh ada diskriminasi. Jika ingin berkualitas internasional, harus semua berkualitas internasional.

Jadilah Presiden Yang Pro Aktif….. Dong!

Mei 29, 2009

Menjelang pilpres 2009 ini ada baiknya saya bicara, daripada diam dipendam di dalam hati. Kejengkelan bisa terus memuncak, berbahaya jika tidak tersalurkan.

Presiden mendatang haruslah pro aktif. Apa maksudnya? Saya menilai, presiden selama ini dan sebelum-sebelumnya tidak membantu secara nyata dalam penegakan supremasi hukum, perbaikan ekonomi, pembentukan identitas bangsa, dan lebih jauh lagi pembentukan peradaban ke arah perbaikan. Presiden selama ini lebih banyak bersembunyi di belakang protokoler, tidak berani berinisiatif sendiri. Atau apakah presiden memang kurang cerdas berinisiatif? Atau apakah presiden sudah merasa sangat sibut untuk sekedar bicara?

Sejak pilpres 2004 presiden dipilih langsung oleh rakyat. Dengan demikian, presiden memiliki legitimasi kuat atas kepemimpinan bangsa dan negara. Asumsi saya, presiden yang dipilih oleh rakyat ini memang telah terbentuk sebagai pribadi berkarakter baik tidak bercela, sederhana, jujur, dan adil. Langkah pertama sang presiden terpilih haruslah mencari, menentukan, dan memastikan para pembantunya juga berkarakter sama. Presiden harus menggunakan emosinya (bukan berarti dengan marah), intonasi ucapan yang kuat, dan segala hal yang mendukung, untuk memastikan bahwa tiap-tiap seorang demi seorang pembantunya pasti adalah orang baik, jujur, adil, tidak memiliki konflik kepentingan atas jabatan yang akan dipercayakan, serta berkarakter terpuji lainnya. Pembantu-pembantu presiden ini akan memimpin departemen-departemen kementerian, tentara, kepolisian, kejaksaan, dan yang setara dengan itu. Mereka pun selanjutnya harus memastikan bahwa jajaran di bawahnya yang akan menjalankan depertemen-depertemen kementerian, tentara, kepolisian, kejaksaan, dan sebagainya itu adalah jajaran yang berkarakter terpuji.

Lalu pro aktif-lah sang presiden. Sebagai contoh, untuk menghilangkan budaya korupsi dan berbagai pungutan liar, presiden haruslah pro aktif dengan banyak berbicara secara tegas bahkan penuh emosi agar semua jajaran di depertemen-departemen, tentara, kepolisian, kejaksaan, dan sebagainya untuk tidak korupsi. Presiden harus secara periodik mendatangi departemen kementerian, markas tentara, markas polisi, kejaksaan, dsb, untuk memastikan korupsi tidak akan lagi dilakukan. Yang penting pula, presiden harus pula bicara secara lugas kepada rakyat secara periodik melalui media elektronik agar korupsi diberantas. Maka gerakan anti korupsi dan anti pungutan liar akan menjadi gerakan nasional yang aktif, produkti, dan masif, serta semua jajaran negara akan tegas melaksanakan itu.

Dalam hal penegakan supremasi hukum, presiden sudah seharusnya pula pro aktif. Bicaralah di depan rakyat secara langsung atau melalui media elektronik bahwa kita semua harus jujur dan mengaku bersalah jika memang bersalah. Jangan takut disebut mengintervensi hukum. Menasehati kepada kebenaran bukanlah intervensi atas independensi hukum. Karena itu, cobalah petakan kasus-kasus besar atau kecil di republik ini. Tak ada salahnya presiden mendatangi pihak-pihak yang terlibat dan nyatakan di depan hidung mereka jika salah akui salah. Ambil contoh kasus BLBI. Presiden seharusnya berani dengan lantang bicara kepada pengemplang BLBI, jika salah akui salah, kembalikan uang negara, dan jangan enak-enak hidup mewah dengan memakan uang negara. Begitu pula dalam kasus korupsi para anggota DPR, pimpinan BI, kasus pembunuhan yang melibatkan ketua KPK, dan sebagainya. Dengan wibawanya, semestinya presiden akan mampu menggetarkan hatinurani orang-orang zalim yang jelas bersalah, agar mereka menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya memang salah.

Dalam hal perbaikan ekonomi, presiden haruslah pro aktif membela kepentingan rakyat banyak dibanding membela segelintir orang pengusaha atau pemegang kapital besar. Seharusnya presiden berjuang keras untuk menegakkan kemandirian bangsa terlebih dahulu, dibanding membela pengusaha atau pemegang kapital yang rakus mencari untung di balik aktivitas perdagangan bebas dunia. Lihat kasus CPO. Ketika harganya meroket di pasar luar negeri, ramai-ramai para pengusaha nasional mengalokasikan penjualan CPO ke luar negeri. Penjualan CPO di dalam negeri yang diminta pemerintah dihargai lebih rendah ditinggal jauh tak digubris. Presiden dan pemerintah diam tak berdaya, beralasan tak ada yang bisa mengekang orang mencari untung besar. Tapi giliran harga CPO dunia anjlok di bawah harga pasar dalam negeri, berulah para pengusaha nasional itu berlindung di balik harga dalam negeri yang jauh lebih tinggi dari harga dunia, tak mau mereka menurunkan harga. Lalu presiden dan pemerintah kembali diam. Apa susahnya presiden dengan dukungan rakyat banyak berjuang keras mengalokasikan seluruh kekayaan alam Indonesia untuk pemerataan dan peningkatan taraf ekonomi rakyat. Kekayaan alam kita yang luar biasa bukan untuk orang asing bukan pula untuk beberapa gelintir orang saja. Petakan…! Minyak dan gas, barang tambang, hutan, pariwisata, dan masih banyak lagi. Bicara dong presiden.., bicara…, dan bertindaklah! Tunjuk dada para pengusaha dan pemegang kapital, tanyakan, “Mana rasa nasionalismu? Jangan enak-enak hidup mewah, jangan numpuk harta, kau mati juga cuma butuh lubang kubur dan kain kafan!”

Ah, masih banyak yang ingin saya utarakan berkaitan dengan keharusan presiden bersikap dan bertindak pro aktif. Dalam kedudukan anda wahai presiden, anda harus berani dan mampu mengajak rakyat, memobilisir mereka dalam menyelesaikan banyak hal masalah bangsa. Dan yang paling utama, ajak diri anda sendiri dan mereka untuk sadar mendasarkan kehidupan ini demi mengabdi kepada Tuhan Sang Maha Pencipta.

Wa Allahu A’lam, Alhamdulillah.

29 Mei 2009


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.