Setelah cukup lama menyelami sepak terjang wanita dewasa ini, saya menilai ada sisi yang membanggakan, tetapi ada pula sisi yang memprihatinkan. Sisi yang membanggakannya adalah bahwa kini wanita tidak bisa lagi dianggap sebagai makhluk Tuhan yang lemah. Wanita kini sejajar dengan pria, bahkan menjadi lebih superior dari pria. Di banyak rumah tangga, pada kenyataannya, kini wanita sebagai isteri, lebih besar penghasilannya dibanding penghasilan pria suaminya. Begitulah, walau dicegah sekeras mungkin, diterima atau tidak diterima, takdir Tuhan menghendaki sudah ada banyak rumah tangga di mana wanita telah lebih superior dibanding pria. Pada akhirnya banyak suami yang harus berdamai dengan kenyataan itu, demi rumah tangga yang langgeng.
Secara mendasar, dalam batas tertentu, tidaklah bermasalah besar jika superioritas wanita ini ditabrakkan dengan nilai-nilai Islam, karena memang Islam mengizinkannya dengan berbagai syarat. Akan tetapi, bagaimana jika wanita yang berkarakter superior ini berhadapan dengan pria saleh yang juga berkarakter superior yang membawa haknya sebagai suami berlandaskan nilai-nilai Islam untuk membatasi superioritas wanita itu? Akankah sesuai jika pria saleh berkarakter superior disandingkan dengan wanita yang juga superior, sebagai suami istri? Dari sinilah sisi memprihatinkan akan saya coba tuturkan.
Paling awal perlu saya ungkapkan bahwa masih banyak pria yang dididik di dalam nilai-nilai Islam yang mengangkat bahwa pria adalah pemimpin dalam rumah tangga dengan hak-hak (relarif di mata manusia) lebih superior dibanding wanita. Bagaimanapun nilai-nilai ini sahih, dan karenanya pria yang menjadikan nilai-nilai ini sebagai landasan, maka ia beralasan kuat. Ada banyak dalil sahih yang menegaskan bahwa secara sisi pandang manusia, pria nampak lebih superior dibanding wanita. Saya akan utarakan beberapa.
Dimulai dari firman Allah SWT di An Nisa: 34, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Nusyuz yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. Nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya, tidak taat kepada suami padahal suaminya benar, meninggalkan tanggung jawab sebagai isteri tanpa izin suami, dsb.
Berikutnya bahwa laki-laki Muslim dengan berbagai syaratnya boleh berpoligami hingga mempunyai empat orang isteri. Sementara wanita Muslim sama sekali tidak boleh berpoliandri. Diizinkannya laki-laki Muslim berpoligami hingga mempunyai empat isteri dengan syarat ia adil, difirmankan Allah SWT di An Nisa: 3, “…, maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, …”
Beberapa hadis sahih juga menegaskan superioritas suami terhadap isterinya. Seperti bahwa isteri layak bersujud kepada suaminya dan bahwa isteri (yang tidak berhalangan) dikutuk oleh malaikat jika menolak ajakan suami berhubungan intim. Seperti sabda Rasul saw di dalam hadis yang diriwayatkan Ahmad, “… kalau dibenarkan manusia sujud kepada manusia, aku akan memerintahkan wanita sujud kepada suaminya, karena besarnya hak suami terhadap isterinya.” Serta di hadis yang diriwayatkan Bukhari, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Kalau seseorang memanggil isterinya ke tempat tidur dan ia tidak mau datang, maka malaikat mengutuki wanita istrinya itu sampai pagi.”
Dalil-dalil sahih di atas adalah ketentuan Tuhan yang jika wanita ingin memprotesnya, silakan protes saja langsung kepada Tuhan. Dan ketentuan Tuhan Sang Pencipta jelas tidak perlu patuh kepada ego manusia ciptaan-Nya. Manusia wajib meyakini bahwa lingkup manfaat ketentuan Tuhan tidak hanya di dunia tetapi juga di akhirat. Dalam arti, jika manusia menaatinya dengan ikhlas semata-mata sebagai wujud pengabdian kepada Tuhan, tentu Tuhan akan menepati janji dengan menganugerahkan syurga dan berbagai imbalan yang membahagiakan yang berkali lipat lebih baik.
Sekarang mari kita coba menganalisis dalil-dalil di atas jika dikaitkan dengan kenyataan. Firman Allah SWT di An Nisa: 34 di atas secara mendasar adalah gambaran ritme rumah tangga keluarga Muslim. Pikirkanlah, bagaimana jika justru wanita yang memberi nafkah kepada suaminya. Apakah berarti pernyataan bahwa Allah telah melebihkan laki-laki atas wanita menjadi tidak berlaku lagi. Begitu pula, bagaimana jika justru suami yang harus memelihara diri ketika isteri tidak ada di rumah, lalu disebut suami nusyuz sehingga justru isterilah yang melakukan upaya supaya suami kembali taat kepada istri. Selanjutnya maka perlu ada Dharma Pria bukan Dharma Wanita lagi. Dan wanita-wanita bekerja di berbagai bidang, termasuk bermain sepak bola, binaragawati, bertinju. Duh.., bukankah ritme rumah tangga keluarga Muslim di An Nisa: 34 itu menjadi berantakan? Maka saya ingin bertanya, wahai wanita apakah memang hati kecil anda sudah tidak menerima firman Allah SWT di An Nisa: 34 itu?
Apakah makna kesejajaran identik dengan tidak menerima ketentuan Tuhan? Apakah memang para emansipatoris sudah tidak lagi menerima adanya perbedaan jasmani di antara pria dan wanita? Jika demikian, sikap itu sudah menyalahi garis Tuhan. Karena memang jelas pada firman Allah SWT di Ali ‘Imran: 36 yang mengisahkan kisah kelahiran Maryam diceritakan, “Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.”
Jadi secara mendasar Tuhan memang telah menciptakan wanita berbeda dengan lali-laki, baik secara fisik, mental, hak dan kewajiban, serta pelaksanaan syariah. Akan tetapi, mengimbangi perbedaan-perbedaan itu, jika wanita dan laki-laki dengan ikhlas tetap konsisten menaati ketentuan Tuhan sesuai fitrahnya, maka masing-masing pihak akan sama-sama berhak mendapat imbalan syurga. Secara pasti, Tuhan memang menjanjikan itu, segala sesuatu akan ada imbalannya yang adil. Dengan demikian, para emansipatoris yang tidak paham aturan Tuhan, sebaiknya mulailah belajar memahami.
Aturan Tuhan mengikuti fitrah dalam membagi tugas antara kaum wanita dan laki-laki. Fitrah secara mendasar menjadikan wanita sebagai wanita, dan laki-laki sebagai laki-laki. Fitrah membiarkan mereka dengan ciri khas masing-masing agar siap menjalankan tugas tertentu, bukan untuk kepentingan pribadi dan bukan pula untuk kepentingan jenis kelamin tertentu, akan tetapi untuk kepentingan kehidupan manusia yang berjalan teratur, memenuhi ciri khas masing-masing dan mewujudkan tujuan mengabdi kepada Tuhan. Fitrah ini mengarahkan realisasi pengabdian kepada Tuhan melalui keragaman antara kedua jenis makhluk wanita dan laki-laki, keragaman ciri khas, keragaman tugas. Melalui keragaman ciri khas dan tugas muncul keragaman kewajiban, keragaman bagian, dan keragaman posisi guna mewujudkan tujuan lembaga besar penuh hikmah yang bernama kehidupan.
Adalah salah jika para emansipatoris memahami wanita dan laki-laki sebagai suatu pertarungan. Bukan karena takut, tetapi paham itu memang sesat dan salah. Was was, waspada, bahkan menyerang sebagai wujud menyikapi bagaimana wanita dan bagaimana laki-laki hanya akan membawa kepada neraka, yang telah diperingatkan Rasul saw bahwa wanita lebih banyak tinggal di dalamnya. Wanita dan laki-laki harus bersama-sama memahami itu. Permasalahan sebenarnya bukanlah masalah pertarungan. Akan tetapi masalah keragaman, pembagian, keterpaduan, dan setelah itu, keadilan yang sempurna dalam aturan Tuhan. Maka jalan yang terbaik bagi laki-laki saleh yang ternyata harus berhadapan dengan istri muslimah yang ingin superior, keduanya harus kembali kepada aturan Tuhan! Agar sisi memprihatinkan yang ditanyakan di awal tulisan ini tidak mengemuka.
Bagaimanapun kepada wanita muslimah di Indonesia, walaupun sudah di bulan Mei, saya ucapkan selamat Hari Kartini! Mohon pahamilah laki-laki muslim saleh yang ingin membina rumah tangga demi pengabdian tulus ikhlas kepada Tuhan. Pahami dengan ikhlas dan tetap berusaha menjalankan aturan Tuhan dengan ikhlas!