Aku menulis tulisan ini di saat kejenuhan melanda. Aku ingin bicara terus terang tentang diriku setelah sebenarnya memang cukup melelahkan terus mengejar pencapaian kebaikan serta mempertahankannya dengan menjaga image dan kehormatan, walaupun manusia memang dituntut Tuhan untuk mampu berbuat itu. Aku sadari itu.
Banyak sekali yang ingin kuutarakan. Hal ini membuatku khawatir untuk tidak bisa selalu mengingatnya untuk ditulis dalam kumpulan huruf ini. Aku ingin bicara, tapi aku juga ingin tetap menjaga kehormatanku. Kupikir memang harus, dan itu wajar.
Tahukah anda, manusia tentu punya idealisme di dalam hati kecilnya. Walaupun dalam kenyataan bisa terus tergerus. Aku merasa, aku cukup bangga masih bertahan untuk mempertahankan memiliki idealisme itu. Walaupun kekhawatiran-kekhawatiran sering melanda yang intinya jika kupertahankan idealisme ini, maka aku harus melawan kejamnya dunia dan isinya. Nyatanya aku memang sudah mengalami, harus berhadapan dengan kejamnya dunia dan isinya, terutama kejamnya manusia-manusia yang melalui tindakan mereka hidupku menjadi berliku-liku, tidak sesuai dengan harapan-harapan manis yang kuimpikan. Aku sering menuduh mereka zalim kepadaku. Tapi hakekat sebenarnya hanya Tuhan yang tahu. Tentu Tuhan akan menghukum mereka di akhirat (bahkan juga di dunia) jika menurut-Nya perbuatan mereka memang zalim kepadaku. Tapi aku juga tak boleh curang. Boleh jadi ada pula manusia yang merasa terzalimi olehku, walaupun aku sudah berusaha menetapi kebenaran. Untuk itu aku hanya bisa meminta maaf kepada mereka (walaupun tidak tersampaikan), tapi terutama aku mohon maaf dan ampun kepada Tuhan telah menzalimi makhluk-Nya.
Ketahuilah, usiaku kini tengah berjalan menuju usia 36 tahun. Pencapaianku dalam usia setua ini sudah cukup banyak, walaupun kunilai masih sangat belum mencukupi. Yang sangat kusyukuri, Tuhan telah memberiku banyak sekali kesempatan belajar yang cukup bervariasi, dan aku mampu memahaminya. Dalam hal ini, aku selalu berdoa, Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kalbu yang tidak khusyu. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari hawa nafsu yang tidak terpuasi. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari doa yang tidak dikabulkan.
Hingga saat ini dan seterusnya aku masih berjuang belajar dan berusaha untuk terus menambah ilmu. Demi Allah aku tidak mau sombong. Salah satu cita-citaku adalah menjadi ahli ilmu, di mana aku diberi kesempatan-Nya mengajak manusia untuk mengabdi kepada Tuhan Sang Pencipta. Ya Allah ampuni hamba, ampuni kami.
Di antara amanah yang kini tengah keras kucoba tunaikan adalah amanah pendidikan dan amanah berjuang untuk menunaikan ibadah haji. Ya Allah mudahkan hamba. Amanah pendidikan masih kukejar karena bagiku ini merupakan jalan menyejahterakan keluarga yang wajib kupertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Sementara amanah berjuang menunaikan ibadah haji juga tengah keras kulakukan dengan menabung haji sedikit demi sedikit, karena rukun Islam yang belum kutunaikan adalah ibadah haji. Tentu di luar dua amanah itu juga masih banyak amanah-amanah lain.
Saudara-saudara, ketahuilah, walaupun kutahu Tuhan tak pernah luput mengamatiku, dalam kesendirian aku seringkali ingin banyak saling berbicara tukar pikiran. Entah dengan laki-laki ataupun dengan perempuan. Pembicaraannya harus yang membangun, yang baik, dan tulus ikhlas. Aku ingin sekali tidak malu dan segan. Tapi aku juga berlindung kepada Tuhan, jika berbicara dengan perempuan, agar aku tidak berlebihan dan tetap tidak melibatkan hawa nafsu. Rasanya sangat mendamaikan jika ada teman bicara yang tulus ikhlas dan aku tidak segan untuk bicara apa adanya yang penuh dengan kebaikan.
Aku katakan, aku punya banyak keburukan dan tentu sering berbuat salah. Tapi aku berlindung kepada Tuhan dari diperlihatkannya aibku, karena demi Allah aku selalu ingin bertaubat. Dan jika berhadapan dengan-Nya tentu aku tidak bisa berdusta. Aku hanya bisa jujur dan mengakui, Ya Allah aku mengakui dosa-dosaku, aku bertaubat, dan aku mohon Engkau lindungi aku dari berbuat dosa kembali. Sebagai manusia, dalam hal berbuat buruk dan dosa hanya sikap itu yang bisa aku tempuh. Bagiku tidak ada yang lain. Kata Rasulullah, semua manusia bersalah. Dan sebaik-baik manusia yang bersalah adalah yang bertaubat.
Dalam hal berhadapan dengan Anda yang tidak seiman, aku berusaha bersikap berlandaskan nilai-nilai universal. Aku menghargai dan hormat kepada Anda dengan harapan Anda pun bersikap sama. Kita tidak boleh saling menzalimi dan tidak boleh saling menindas hak masing-masing. Tapi aku akan tetap mengajak Anda dengan lemah lembut tanpa paksaan untuk menjadi Muslim demi keselamatan akhirat Anda, karena itu yang juga dilakukan Rasul Muhammad. Semoga Allah memberi hidayah-Nya.
Ternyata tulisan ini memang hanya sebagian dari rencana di awal yang seakan membludak di kepala untuk diutarakan. Saat kumenulis ini sudah sangat larut malam, saat rapat paripurna DPR RI sudah selesai dengan votingnya tentang kasus Century.