Saya tinggal di sebuah rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan hijau. Sayangnya keasrian rumah sederhana itu ternoda oleh keberadaan saluran air / selokan di depan rumah. Sebenarnya saluran itu tidaklah bermasalah jika kondisinya normal sebagai saluran air saja. Akan tetapi, ternyata saluran itu juga menjadi tempat pembuangan sampah bagi orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Di samping itu ada banyak pula orang-orang yang membuang sampah sembarangan di halaman orang lain. Kondisi ini sangat memprihatinkan.
Sebagai warga saya merasa turut prihatin pula. Di setiap pertemuan warga, tanpa bermaksud menggurui, saya selalu berusaha mengingatkan agar tidak membuang sampah sembarangan. Saya pun memberi contoh pengelolaan sampah yang relatif baik, yaitu untuk sampah organik saya membuat lubang sampah di pekarangan, tetapi untuk sampah non organik seperti plastik saya buang di tempat pembuangan sampah RW. Lubang sampah di pekarangan jika sudah penuh tinggal ditimbun, maka ia akan menjadi penyubur tanah. Lalu saya buat lubang sampah yang baru. Sementara sampah non organik, saya belum sanggup mengelolanya, maka saya buang ke tempat pembuangan sampah RW, biarlah Pemda yang menanganinya.
Apakah contoh yang saya berikan ditiru? Syukurnya ada yang menirunya, tetapi sedikit. Tetap ada saja sampah di selokan, atau ada saja orang yang membuang sampah di halaman rumah. Saya sering memikirkan, apa yang ada di dalam pikiran orang-orang yang membuang sampah seenaknya itu. Jelas, ia hanya memikirkan masalahnya selesai, padahal ia telah membuat masalah terhadap orang banyak yang lain. Ia zalim. Dan zalim adalah berdosa. Apakah ia tidak menyadarinya?
Lalu saya menarik sikap zalim ini tidak hanya pada masalah sampah. Karakter zalim ternyata masih cukup dominan mewarnai keseharian kita. Petugas kelurahan yang masih meminta uang administrasi pada pembuatan KTP, padahal tertempel spanduk pengumuman bahwa tidak ada pungutan apa pun pada pembuatan KTP, adalah zalim. Sopir angkot/metro mini/kopaja/bis kota yang berhenti sembarangan mengganggu lalu lintas adalah zalim. Pedagang kaki lima yang berdagang sembarangan menyempitkan jalan raya adalah zalim. Motor yang main salip dengan suara mesinnya yang memekakkan telinga adalah zalim. Permainan kotor dalam penerimaan pegawai adalah zalim. Berbagai pungutan liar adalah zalim. Koruptor, perampok, pencuri adalah zalim. Bahkan saling menyontek dalam ujian yang meyalahi aturan dalam ujian itu adalah juga zalim. Dan masih banyak zalim-zalim yang lain. Lantas bagaimana akibatnya bagi Indonesia jika karakter-karakter zalim ini masih cukup dominan mewarnai? Ya Tuhan…
Apakah yang ada di dalam pikiran orang-orang zalim itu? Apakah dosa karena zalim telah berubah menjadi halal dan berpahala? Apakah hidup hanya di dunia ini saja, sehingga segalanya dikejar demi dunia? Apakah tidak ada hari pembalasan? Apakah tidak takut dengan hari pembalasan?
Ha.., ha.., ha.., orang-orang zalim hanya tertawa.